Liputan6.com,
Jakarta Mendikbud Muhadjir
Effendy menyampaikan, penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) dihapuskan, atau
lebih tepatnya ditiadakan sementara (Moratorium). Hal tersebut dilakukan
sebagai proses percobaan terkait memperbaiki sistem pendidikan yang ada di
Indonesia.
Sebelumnya, Beliau mengatakan
perencanaan tersebut sudah disetujui Presiden Joko Widodo dan tinggal menunggu
intruksinya saja. Berdasarkan pernyataan tersebut, banyak media yang meliput.
Tak sedikit para pelaku dunia pendidikan ikut merespon.Tak terkecuali bagi masyarakat umum.
Meski tidak lagi duduk di bangku sekolah, mereka tentu menginginkan yang
terbaik bagi pendidikan anak-anaknya kelak.
“Nilai bukan jaminan. Selama 3 tahun
sekolah nilainya bagus. Eh pas ujian nasional dia ketakutan duluan, gugup,
gerogi, kan tertekan jadinya.Kalo udah kaya gitu jadi terganggu ujiannya, jadi
gak yakin dan gak bisa berfikir, dampaknya nilainya jadi jelek”, ujar seorang
ibu rumah tangga yang tak disebutkan namanya.
Menurut Gabriela Rascha Siswi Kelas
XII.sos 2 SMA Kolase Gonzaga, UN memiliki sisi baik dan buruknya. Selama ini,
Ujian Nasional dibuat untuk mengukur standar negara agar tidak ada kesenjangan
secara nasional. Dengan adanya UN, standar kualitas pendidikan tingkat
SD/SMP/SMA lebih terjamin dan sama rata. “tapi positifnya kalo UN gak ada sih,
yang pasti lebih gampang lulusnya,” katanya.
Pendapat yang sama dikemukakan Sridevi
siswi kelas XII SMAN 37 Jakarta. Menurutnya, jika UN ditiadakan, kelulusan
dapat lebih mudah dicapai. Waktu 3 tahun belajar di sekolah, tidak ditentukan
oleh nasib yang hanya berjalan 3 atau 4 hari saja.
Berbeda dengan para peserta ujian,
sebagian tenaga kerja pendidik justru menyayangkan ketiadaan ujian tersebut.
alasannya, selama ini ujian nasional memang dipergunakan untuk mengukur standar
kualitas sekolah.
Menurut Yudi seorang guru Sejarah
salah satu SMA swasta dikawasan Pejaten Jakarta Selatan, Jika UN tidak ada
dikhawatirkan sekolah tidak memiliki motivasi untuk menaikan standar kualitas
pendidikannya. Sehingga mereka hanya berlomba-lomba
meluluskan 100% siswanya yang kualitasnya belum tentu baik. “Jadi saya sejutu
kalo ada UN. Meskipun bukan sebagai standar kelulusan, tapi UN bisa jadi
pelengkap nilai gabungan dengan ujian sekolah yang akhirnya jadi nilai kelulusan”,
tambahnya.
Referensi
http://achmadbuchor.blogspot.co.id/2017/01/penduduk-dan-tingkat-pendidikan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar