Tugas IBD Gunadarma
Budaya dan Agama
Agama dan kebudayaan adalah dua hal
yang sangat dekat di masyarakat. Bahkan banyak yang salah mengartikan bahwa
agama dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang utuh. Dalam kaidah, sebenarnya
agama dan kebudayaan mempunyai kedudukan masing-masing dan tidak dapat
disatukan, karena agamalah yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada
kebudayaan. Namun keduanya mempunyai hubungan yang erat dalam kehidupan
masyarakat. Geertz mengakatan bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis
dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana
individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi
juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk
seni suara, ukiran, bangunan.
Dapatlah disimpulkan bahwa budaya
yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang
diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh
konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi
yang objektif. Demi terjaganya esistensi dan kesucian nilai – nilai agama
sekaligus memberi pengertian, disini akan diulas mengenai Apa itu Agama dan Apa
itu Budaya, yang tersusun dalam bentuk makalah dengan judul “Hubungan Agama dan
Budaya”.
Pengertian Agama dan Kebudayaan
Kata
agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu berasal dari kata a(tidak) dan gama (kacau),
yang bila digabungkan menjadi sesuatu yang tidak kacau. Dan
agama ini bertujuan untuk memelihara atau mengatur hubungan seseorang atau
sekelompok orang terhadap realitas tertinggi yaitu Tuhan, sesama manusia dan
alam sekitarnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata agama berarti prinsip
kepercayaan kepada Tuhan.Agama diucapkan oleh orang barat dengan religios (bahasa
latin),religion ( bahasa Inggris, Perancis, Jerman ) dan religie (
bahasa Belanda ). Istilah ini bukanya tidak mengandung arti yang dalam
melainkan mempunyai latarbelakang pengertian yang mendalam daripada pengertian
“Agama” yang telah disebutkan diatas. Berikut ini adalah penjelasan
dari nama-nama lain dari agama yang ada di atas :
a. Religie (religion)
menurut pujangga kristen, Saint Augustinus, berasal dari kata re dan eligare yang
berarti memilih kembali dari jalan yang sesat ke jalan Tuhan.
b. Religie, menurut
Lactantius, berasal dari kata re dan ligare yang artinya
menghubungkan kembali sesuatu yang telah putus. Yang dimaksud ialah
menghubungkan diantara Tuhan dan manusia yang telah terputus karena
dosa-dosanya.
c. Religie berasal
dari re dan ligere yang berarti membaca berulang-ulang
bacaan-bacaan suci, dengan maksud agar jiwa si pembaca terpengaruh oleh
kesuciannya. Demikian pendapat dari Cicero.
Agama
ini muncul dari perasaan ketakjuban manusia terhadap realitas alam yang ada.
Seperti air yang bisa melepaskan dahaga seseorang, namun terkadang bisa membawa
malapetaka seperti banjir, angin yang memberikan kesejukan, namun terkadang
mendatangkan kerusakan seperti angin topan atau tornado, kemudian
mereka percaya bahwa ada suatu kekuatan tertentu. Mereka mencoba untuk mencari
keselamatan dari ketidakseimbangan yang mereka rasakan, yang dapat mendatangkan
keselamatan bagi mereka. Jadi, secara umum, agama adalah upaya manusia untuk
mengenal dan menyembah Ilahi yang dipercayai dapat memberi keselamatan serta
kesejahteraan hidup dan kehidupan kepada manusia. Upaya tersebut dilakukan
dengan berbagai ritual secara pribadi dan bersama yang ditujukan kepada
kekuatan besar yang mereka percayai sebagai Tuhan.
Kemudian
mengenai pengertian budaya atau kebudayaan menurut Koentjara Ningrat ialah
berasal dari bahasa Sansekerta yaitubuddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi
atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal
dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan
bahwa: “budaya“ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “kebudayaan”
adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti
kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan
kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu, dll).
Sedang ahli sejarah mengartikan kebudayaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan
ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, dan
kelakuan.
Menurut
Ki Hadjar Dewantoro Kebudayaan adalah "sesuatu" yang berkembang
secara kontinyu, konvergen, dan konsentris. Jadi
Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, baku atau mutlak. Kebudayaan
berkembang seiring dengan perkembangan evolusi batin maupun fisik manusia
secara kolektif. Jadi dapat dikatakan secara singkat bahwa kebudayaan adalah
hasil cipta, rasa, karsa manusia yang dilakukan dalam keseharian.
Alasan Agama-Bukan
Wahyu Merupakan Bagian dari Kebudayaan
Agama budaya atau bisa disebut dengan agama ardhi (bumi)
adalah produk akal. Ajaran-ajaranya dihasilkan oleh pemikiran akal. Sumber
dalam agama budaya ini adalah masyarakat,ia tidak memiliki kitab suci, yang
mengandung dan mengajarkan doktrin. Tetapi sekalipun agama memiliki kitab suci,
yang ditulis oleh orang yang dipandang dan menganggap dirinya berwenanang atas
agama itu, kitab suci itu mengalami perubahan dalam perjalanan sejarahnya.
Adapun ciri-cirinya yaitu
1) Tumbuh
secara evolusi dalam masyarakat penganutnya, tidak dipasstikan waktu tertentu
kelahiranya.
2) Tidak disampaikan
oleh utusan Tuhan, tetapi oleh pendeta atau mungkin oleh para filosof.
3) Umumya
tidak memiliki kitab suci, kalaupun ada, kitabnya mengalami perubahan dalam
perjalanan sejarah agama.
4) Ajaranya
berubah dengan perubahan akal masyarakat yang menganut, atau oleh filosofinya.
5) Konsep
ketuhananya: dinamisme, animisme, poiteisme, paling tinggi monoteisme nisbi.
6) Kebeneran
prinsip-prinsip ajaranya tidak universal, yaitu tidak berlaku bagi setiap
manusia, masa, dan keadaan.
Dari pengertian diatas kemudian kita akan menjelaskan
mengapa agama yang bukan wahyu merupakan bagian dari kebudayaan dan sebaliknya.
Dengan akalnya, manusia berkelana dan berpetualang mencari
tuhannya. Dalam perjalanan itulah akal menemukan dinamo (yang membentuk
kepercayaan dinamisme), menemukan anime (yang membentuk kepercayaan animisme).
Dari animisme akal melanjutkan jalanya kepada politeisme. Politeisme masih
tidak memuaskanya. Melalui henoteisme, akal mengarah dengan tenaganya sendiri
kepada monoteisme.
Konsep dinamisme, animisme, politeisme, adalah kufur, yaitu
mengingkari Tuhan yang maha Esa. Usaha akal mencari konsep ketuhanan diberi
petunjuk oleh wahyu melalui nabi dan rosul, sehingga membawa akal kepada
monoteisme. Tetapi konsepsi-konsepsi ketuhanan yang satu yang diajarkan oleh
nabi dan rosul itu, dipembelakanganya, oleh turunan berikutnya dirusakan oleh
pemikiran akal, sehingga terjadilah syirik.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan ada dua macam evolusi
konsepsi ketuhanan, yang membawa dua jenis sejarah agama. Yang pertama konsepsi
akal, yang kedua naqal. Konsepsi akal membentuk agama, yang diistilahkan dengan
agama budaya, sedangkan konsep naqal diistilahkan dengan agama langit.
Agama budaya menggunakan konsepsi akal karena agama itu
tumbuh dalam kehidupan manusia. Dan cara berpikir masyarakat menghadapi
kehidupan melahirkan cara berlaku dan berbuat dalam kehidupan yang
luas ini, cara berlaku dan berbuat itu meliputi:
1) Hubungan
manusia dengan manusia, antara manusia dan masyarakat (sosial).
2) Hubungan
manusia dengan benda (ekonomi).
3) Hubungan
manusia dengan kekuasaan (politik).
4) Hubungan
manusia dengan alam kerja (ilmu dan teknik).
5) Hubungan
manusia dengan ciptaan bentuk-bentuk yang menyenangkan (seni).
6) Hubungan
manusia dengan hakikat dan nilai-nilai (filsafat).
7) Hubungan
manusia dengan yang kudus khususnya (khususnya yang diistilahkan agama).
Agama itu tumbuh dalam kehidupan manusia. Kehidupan diisi
oleh kebudayaan. Maka agama adalah sebagian dari pada kebudayaan, seperi pula
sosial, ekonomi, politik, ilmu dan teknik, seni dan filsafat. Agama
ini disebut oleh ilmu : natural religion, agama alam.
Berdasarkan data-data yang dapat di teliti atau diamati,
agama itu timbul dalam kebudayaan maka antropologi memasukan agama kedalam
kebudayaan sebagai salah satu curtural universalnya.
Menurut Clifford Geertz seorang tokoh terkemuka didalam
antropologi Inggris, mengatakan bahwa agama adalah sistem budaya. Apa artinya
Geerts mengatakan seperti itu? Geerts memberikan jawabanya didalam suatu
kalimat tunggal yang penuh berisi. Agama adalah:
1). Sebuah sistem simbol yang berperan; 2). Membangun
suasana hati dan motivasi yang kuat, pervasif dan tahan lama didalam diri
manusia dengan cara; 3). Merumuskan konsepsi tatanan kehidupan yang umum; dan
4). Membungkus konsepsi konsepsi ini dengan suatu aura faktualitas semacam itu
sehingga 5) suasana hati dan motivasi tampak realistik secara unik.
Yang pertama dimaksud oleh Geerts dengan “sistem simbol” adalah
segala sesuatu yang membawa dan menyampaikan suatu ide kepada orang: suatu
objek seperti roda dua orang budha, suatu peristiwa seperti penyaliban, suatu
ritual seperti bar mitzwah, atau sekedar tindakan tapa kata, seperti gerak
isyarat kasihan atau kerendahan hati.
Kedua, ketika dikatakan bahwa simbol-simbol ini “Membangun
suasana hati dan motivasi yang kuat, pervasif, dan tahan lama”. Motivasi
memiliki tujuan, dan ia di bimbing oleh serangkaian nilai yang abadi apa yang
memiliki arti bagi orang, apa yang mereka anggap baik dan benar. Disini
motivasinya adalah peran moral, perkara memilih yang baik diatas yang jahat
bagi dirinya. Orang-orang Yahudi ingin melihat Jerusalem dan kaum Muslimin
pergi ke Mekkah, semua ini juga menetapkan sesuatu agar dapat mencapai tujuan mereka,
yakni untuk mendapatkan pengalaman yang secara moral di dalam suatu
tempat yang sakral didalam tradisi mereka.
Ketiga, konsep tentang tatanan kehidupan yang umum, Geertz
sekedar bermaksud bahwa agama mencoba untuk memberi penjelasan yang puncak tentang
dunia. Maksudnya adalah untuk memberi suatu arti yang mutlak, suatu tujuan
peranan yang besar pada dunia.
Keempat dan kelima “membungkus konsepsi-konsepsi ini dengann
suatu aura faktualitas semacam itu sehingga suasana hati dan motivasi tampak
realistik secara unik”.
3. Alasan Agama
Samawi Bukan Merupakan Bagian dari Kebudayaan
Agama samawi ialah ajaran Allah yang disampaikan kepada para
Rasul-nya, yaitu agama Islam. Agama Samawi atau Sama’i, ialah agama Wahyu, dan
wahyu yang Allah turunkan itu tidak lansung diturunkan kepada masyarakat, akan
tetapi melalui Rasul atau utusan Allah.
Adapun ciri-cirinya yaitu:
1) Secara
pasti dapat ditentukan lahirnya, dan bukan tumbuh dari masyarakat, melinkan
diturunkan kepada masyarakat.
2) Disampaikan
oleh manusia yang dipilih Allah sebagai utusan-Nya. Utusan itu bukan
menciptakan agama, melainkan menyampaikanya.
3) Memiliki
kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia.
4) Ajaranya
serba tetap, walaupun tafsiranya dapat berubah sesuai dengan
kecerdasan dan kepekaan manusia.
5) Konsep
ketuhananya adalah: Monotheisme mutlak (Tauhid).
6) Kebeneranya
adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia, masa, dan keadaan.
Dari ciri-ciri tersebut dapat dikatakan bahwa agama samawi
bukanlah hasil pemikiran ataupun diambil dari kebudayaan manusia, melainkan
murni ajaran dari Tuhan yang bersifat mutlak. Oleh karenanya lingkup kebudayaan
ataupun yang lain tidak boleh mengatasnamakan bahwa ajaran samawi itu berasal
dari mereka.
4. Hubungan Antara Agama dengan
Kebudayaan
Seperti halnya kebudayaan, agama sangat menekankan makna dan
signifikasi sebuah tindakan. Karena itu sesungguhnya terdapat hubungan yang
sangat erat antara kebudayaan dan agama bahkan sulit dipahami kalau
perkembangan sebuah kebudayaan dilepaskan dari pengaruh agama. Sesunguhnya
tidak ada satupun kebudayaan yang seluruhnya didasarkan pada agama. Untuk
sebagian kebudayaan juga terus ditantang oleh ilmu pengetahuan, moralita, serta
pemikiran kritis.
Meskipun tidak dapat disamakan, agama dan kebudayaan dapat
saling mempengaruhi. Agama mempengaruhi sistem kepercayaan serta
praktik-praktik kehidupan. Sebaliknya kebudayaan pun dapat mempengaruhi agama,
khususnya dalam hal bagaimana agama diinterprestasikan atau bagaimana
ritual-ritualnya harus dipraktikkan. Tidak ada agama yang bebas budaya dan apa
yang disebut Sang –Illahi tidak akan mendapatkan makna manusiawi yang tegas
tanpa mediasi budaya, dalam masyarakat Indonesia saling mempengarui antara
agama dan kebudayaan sangat terasa. Praktik inkulturasi dalam upacara keagamaan
hampir umum dalam semua agama.
Agama yang digerakkan budaya timbul dari proses interaksi
manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu
agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis,
budaya dan beberapa kondisi yang objektif. Budaya agama tersebut akan terus
tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi
objektif dari kehidupan penganutnya.
Hubungan kebudayaan dan agama tidak saling merusak, kuduanya
justru saling mendukung dan mempengruhi. Ada paradigma yang mengatakan bahwa ”
Manusia yang beragma pasti berbudaya tetapi manusia yang berbudaya belum tentu
beragama”.
Jadi agama dan kebudayaan sebenarnya tidak pernah
bertentangan karena kebudayaan bukanlah sesuatu yang mati, tapi berkembang
terus mengikuti perkembangan jaman. Demikian pula agama, selalu bisa berkembang
di berbagai kebudayaan dan peradaban dunia.
Agama dan budaya Indonesia
Jika kita teliti budaya Indonesia, maka tidak dapat tidak
budaya itu terdiri dari 5 lapisan. Lapisan itu diwakili oleh budaya agama
pribumi, Hindu, Buddha, Islam dan Kristen (Andito, ed,1998:77-79)
Lapisan pertama adalah agama pribumi yang memiliki ritus-ritus
yang berkaitan dengan penyembahan roh nenek moyang yang telah tiada atau
lebih setingkat yaitu Dewa-dewa suku seperti sombaon di Tanah Batak,
agama Merapu di Sumba, Kaharingan di Kalimantan. Berhubungan dengan ritus agama
suku adalah berkaitan dengan para leluhur menyebabkan terdapat solidaritas
keluarga yang sangat tinggi. Oleh karena itu maka ritus mereka berkaitan dengan
tari-tarian dan seni ukiran, Maka dari agama pribumi bangsa Indonesia
mewarisi kesenian dan estetika yang tinggi dan nilai-nilai kekeluargaan yang
sangat luhur.
Lapisan kedua dalah Hinduisme, yang telah meninggalkan
peradapan yang menekankan pembebasan rohani agar atman bersatu dengan Brahman
maka dengan itu ada solidaritas mencari pembebasan bersama dari penindasan
sosial untuk menuju kesejahteraan yang utuh. Solidaritas itu diungkapkan dalam
kalimat Tat Twam Asi, aku adalah engkau.
Lapisan ketiga adalah agama Buddha, yang telah mewariskan
nilai-nilai yang menjauhi ketamakan dan keserakahan. Bersama dengan itu timbul
nilai pengendalian diri dan mawas diridengan menjalani 8 tata jalan keutamaan.
Lapisan keempat adalah agama Islam yang telah menyumbangkan
kepekaan terhadap tata tertib kehidupan melalui syari’ah, ketaatan melakukan
shalat dalam lima waktu,kepekaan terhadap mana yang baik dan mana yang jahat
dan melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar)
berdampak pada pertumbuhan akhlak yang mulia. Inilah hal-hal yang disumbangkan
Islam dalam pembentukan budaya bangsa.
Lapisan kelima adalah agama Kristen, baik Katholik maupun
Protestan. Agama ini menekankan nilai kasih dalam hubungan antar manusia.
Tuntutan kasih yang dikemukakan melebihi arti kasih dalam kebudayaan sebab
kasih ini tidak menuntutbalasan yaitukasih tanpa syarat. Kasih bukan suatu
cetusan emosional tapi sebagai tindakan konkrit yaitu memperlakukan sesama seperti
diri sendiri. Atas dasar kasih maka gereja-gereja telah mempelopori pendirian
Panti Asuhan, rumah sakit, sekolah-sekolah dan pelayanan terhadap orang miskin.
Dipandang dari segi budaya, semua kelompok agama di
Indonesia telah mengembangkan budaya agama untuk mensejahterakannya tanpa
memandang perbedaan agama, suku dan ras.
Disamping pengembangan budaya immaterial tersebut
agama-agama juga telah berhasil mengembangkan budaya material seperti
candi-candi dan bihara-bihara di Jawa tengah, sebagai peninggalan budaya Hindu
dan Buddha. Budaya Kristen telah mempelopori pendidikan, seni bernyanyi, sedang
budaya Islam antara lain telah mewariskan Masjid Agung Demak (1428) di Gelagah
Wangi Jawa Tengah. Masjid ini beratap tiga susun yang khas Indonesia, berbeda
dengan masjid Arab umumnya yang beratap landai. Atap tiga susun itu
menyimbolkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini tanpa kubah, benar-benar has
Indonesia yang mengutamakan keselarasan dengan alam.Masjid Al-Aqsa Menara Kudus
di Banten bermenaar dalam bentuk perpaduan antara Islam dan Hindu. Masjid
Rao-rao di Batu Sangkar merupakan perpaduan berbagai corak kesenian dengan
hiasan-hiasan mendekati gaya India sedang atapnya dibuat dengan motif rumah
Minangkabau (Philipus Tule 1994:159).
Kenyataan adanya legacy tersebut membuktikan bahwa
agama-agama di Indonesia telah membuat manusia makin berbudaya sedang budaya
adalah usaha manusia untuk menjadi manusia.
KESIMPULAN
-Kata agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu berasal
dari kata a(tidak)
dan gama (kacau), yang bila
digabungkan menjadi sesuatu yang tidak kacau.
- Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa:
“budaya“ adalah pikiran, akal budi, adat
istiadat.
- Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, kebudayaan adalah
hasil kegiatan dan penciptaan
batin (akal budi)
manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
- Masyarakat, agama dan kebudayaan sangat erat berkaitan
satu sama lain. Saat budaya atau agama
diartikan sesuatu
yang terlahir di dunia yang manusia mau tidak mau harus menerima warisan
tersebut.
Berbeda ketika sebuah kebudayaan dan agama dinilai sebagai sebuah proses
tentunya akan
bergerak kedepan
menjadi sebuah pegangan, merubah suatu keadaan yang sebelumnya menjadi lebih
baik.
REFERENSI