Jumat, 15 April 2016

Tugas IBD Gunadarma
Budaya dan Agama

Agama dan kebudayaan adalah dua hal yang sangat dekat di masyarakat. Bahkan banyak yang salah mengartikan bahwa agama dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang utuh. Dalam kaidah, sebenarnya agama dan kebudayaan mempunyai kedudukan masing-masing dan tidak dapat disatukan, karena agamalah yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada kebudayaan. Namun keduanya mempunyai hubungan yang erat dalam kehidupan masyarakat. Geertz mengakatan bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara, ukiran, bangunan.
    Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif. Demi terjaganya esistensi dan kesucian nilai – nilai agama sekaligus memberi pengertian, disini akan diulas mengenai Apa itu Agama dan Apa itu Budaya, yang tersusun dalam bentuk makalah dengan judul “Hubungan Agama dan Budaya”.

Pengertian Agama dan Kebudayaan
          Kata agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu berasal dari kata a(tidak) dan gama (kacau), yang bila digabungkan   menjadi sesuatu yang tidak kacau. Dan agama ini bertujuan untuk memelihara atau mengatur hubungan seseorang atau sekelompok orang terhadap realitas tertinggi yaitu Tuhan, sesama manusia dan alam sekitarnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata agama berarti prinsip kepercayaan kepada Tuhan.Agama diucapkan  oleh orang barat dengan religios (bahasa latin),religion ( bahasa Inggris, Perancis, Jerman ) dan religie ( bahasa Belanda ). Istilah ini bukanya tidak mengandung arti yang dalam melainkan mempunyai latarbelakang pengertian yang mendalam daripada pengertian “Agama” yang telah disebutkan diatas. Berikut ini adalah  penjelasan dari nama-nama lain dari agama yang ada di atas :
a.       Religie (religion) menurut pujangga kristen, Saint Augustinus, berasal dari kata re dan eligare yang berarti memilih kembali dari jalan yang sesat ke jalan Tuhan.
b.      Religie, menurut Lactantius, berasal dari kata re dan ligare yang artinya menghubungkan kembali sesuatu yang telah putus. Yang dimaksud ialah menghubungkan diantara Tuhan dan manusia yang telah terputus karena dosa-dosanya.
c.       Religie berasal dari re dan ligere yang berarti membaca berulang-ulang bacaan-bacaan suci, dengan maksud agar jiwa si pembaca terpengaruh oleh kesuciannya. Demikian pendapat dari Cicero.
          Agama ini muncul dari perasaan ketakjuban manusia terhadap realitas alam yang ada. Seperti air yang bisa melepaskan dahaga seseorang, namun terkadang bisa membawa malapetaka seperti banjir, angin yang memberikan kesejukan, namun terkadang mendatangkan kerusakan seperti angin topan atau tornado,  kemudian mereka percaya bahwa ada suatu kekuatan tertentu. Mereka mencoba untuk mencari keselamatan dari ketidakseimbangan yang mereka rasakan, yang dapat mendatangkan keselamatan bagi mereka. Jadi, secara umum, agama adalah upaya manusia untuk mengenal dan menyembah Ilahi yang dipercayai dapat memberi keselamatan serta kesejahteraan hidup dan kehidupan kepada manusia. Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai ritual secara pribadi dan bersama yang ditujukan kepada kekuatan besar yang mereka percayai sebagai Tuhan.
          Kemudian mengenai pengertian budaya atau kebudayaan menurut Koentjara Ningrat  ialah berasal dari bahasa Sansekerta yaitubuddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.
Di dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “budaya“ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu, dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudayaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup,  way of life, dan kelakuan.
          Menurut Ki Hadjar Dewantoro Kebudayaan adalah "sesuatu" yang berkembang secara kontinyu, konvergen, dan konsentris. Jadi
Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, baku atau mutlak. Kebudayaan berkembang seiring dengan perkembangan evolusi batin maupun fisik manusia secara kolektif. Jadi dapat dikatakan secara singkat bahwa kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, karsa manusia yang dilakukan dalam keseharian.



       Alasan Agama-Bukan Wahyu Merupakan Bagian dari Kebudayaan
Agama budaya atau bisa disebut dengan agama ardhi (bumi) adalah produk akal. Ajaran-ajaranya dihasilkan oleh pemikiran akal. Sumber dalam agama budaya ini adalah masyarakat,ia tidak memiliki kitab suci, yang mengandung dan mengajarkan doktrin. Tetapi sekalipun agama memiliki kitab suci, yang ditulis oleh orang yang dipandang dan menganggap dirinya berwenanang atas agama itu, kitab suci itu mengalami perubahan dalam perjalanan sejarahnya.
Adapun ciri-cirinya yaitu
1)        Tumbuh secara evolusi dalam masyarakat penganutnya, tidak dipasstikan waktu tertentu kelahiranya.
2)        Tidak  disampaikan oleh utusan Tuhan, tetapi oleh pendeta atau mungkin oleh para filosof.
3)        Umumya tidak memiliki kitab suci, kalaupun ada, kitabnya mengalami perubahan dalam perjalanan sejarah agama.
4)        Ajaranya berubah dengan perubahan akal masyarakat yang menganut, atau oleh filosofinya.
5)        Konsep ketuhananya: dinamisme, animisme, poiteisme, paling tinggi monoteisme nisbi.
6)        Kebeneran prinsip-prinsip ajaranya tidak universal, yaitu tidak berlaku bagi setiap manusia, masa, dan keadaan.
Dari pengertian diatas kemudian kita akan menjelaskan mengapa agama yang bukan wahyu merupakan bagian dari kebudayaan dan sebaliknya.
Dengan akalnya, manusia berkelana dan berpetualang mencari tuhannya. Dalam perjalanan itulah akal menemukan dinamo (yang membentuk kepercayaan dinamisme), menemukan anime (yang membentuk kepercayaan animisme). Dari animisme akal melanjutkan jalanya kepada politeisme. Politeisme masih tidak memuaskanya. Melalui henoteisme, akal mengarah dengan tenaganya sendiri kepada monoteisme.
Konsep dinamisme, animisme, politeisme, adalah kufur, yaitu mengingkari Tuhan yang maha Esa. Usaha akal mencari konsep ketuhanan diberi petunjuk oleh wahyu melalui nabi dan rosul, sehingga membawa akal kepada monoteisme. Tetapi konsepsi-konsepsi ketuhanan yang satu yang diajarkan oleh nabi dan rosul itu, dipembelakanganya, oleh turunan berikutnya dirusakan oleh pemikiran akal, sehingga terjadilah syirik.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan ada dua macam evolusi konsepsi ketuhanan, yang membawa dua jenis sejarah agama. Yang pertama konsepsi akal, yang kedua naqal. Konsepsi akal membentuk agama, yang diistilahkan dengan agama budaya, sedangkan konsep naqal diistilahkan dengan agama langit.
Agama budaya menggunakan konsepsi akal karena agama itu tumbuh dalam kehidupan manusia. Dan cara berpikir masyarakat menghadapi kehidupan melahirkan cara berlaku  dan berbuat dalam kehidupan yang luas ini, cara berlaku  dan berbuat itu meliputi:
1)        Hubungan manusia dengan manusia, antara manusia dan masyarakat (sosial).
2)        Hubungan manusia dengan benda (ekonomi).
3)        Hubungan manusia dengan kekuasaan (politik).
4)        Hubungan manusia dengan alam kerja (ilmu dan teknik).
5)        Hubungan manusia dengan ciptaan bentuk-bentuk yang menyenangkan (seni).
6)        Hubungan manusia dengan hakikat dan nilai-nilai (filsafat).
7)        Hubungan manusia dengan yang kudus khususnya (khususnya yang diistilahkan agama).
Agama itu tumbuh dalam kehidupan manusia. Kehidupan diisi oleh kebudayaan. Maka agama adalah sebagian dari pada kebudayaan, seperi pula sosial,  ekonomi, politik, ilmu dan teknik, seni dan filsafat. Agama ini disebut oleh ilmu : natural religion, agama alam.
Berdasarkan data-data yang dapat di teliti atau diamati, agama itu timbul dalam kebudayaan maka antropologi memasukan agama kedalam kebudayaan sebagai salah satu curtural universalnya.
Menurut Clifford Geertz seorang tokoh terkemuka didalam antropologi Inggris, mengatakan bahwa agama adalah sistem budaya. Apa artinya Geerts mengatakan seperti itu? Geerts memberikan jawabanya didalam suatu kalimat tunggal yang penuh berisi. Agama adalah:
1). Sebuah sistem simbol yang berperan; 2). Membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, pervasif dan tahan lama didalam diri manusia dengan cara; 3). Merumuskan konsepsi tatanan kehidupan yang umum; dan 4). Membungkus konsepsi konsepsi ini dengan suatu aura faktualitas semacam itu sehingga 5) suasana hati dan motivasi tampak realistik secara unik.
Yang pertama dimaksud oleh Geerts dengan “sistem simbol”  adalah segala sesuatu yang membawa dan menyampaikan suatu ide kepada orang: suatu objek seperti roda dua orang budha, suatu peristiwa seperti penyaliban, suatu ritual seperti bar mitzwah, atau sekedar tindakan tapa kata, seperti gerak isyarat kasihan atau kerendahan hati. 
Kedua, ketika dikatakan bahwa simbol-simbol ini “Membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, pervasif, dan tahan lama”. Motivasi memiliki tujuan, dan ia di bimbing oleh serangkaian nilai yang abadi apa yang memiliki arti bagi orang, apa yang mereka anggap baik dan benar. Disini motivasinya adalah peran moral, perkara memilih yang baik diatas yang jahat bagi dirinya. Orang-orang Yahudi ingin melihat Jerusalem dan kaum Muslimin pergi ke Mekkah, semua ini juga menetapkan sesuatu agar dapat mencapai tujuan mereka, yakni untuk mendapatkan  pengalaman yang secara moral di dalam suatu tempat yang sakral didalam tradisi mereka.
Ketiga, konsep tentang tatanan kehidupan yang umum, Geertz sekedar bermaksud bahwa agama mencoba untuk memberi penjelasan yang puncak tentang dunia. Maksudnya adalah untuk memberi suatu arti yang mutlak, suatu tujuan peranan yang besar pada dunia.
Keempat dan kelima “membungkus konsepsi-konsepsi ini dengann suatu aura faktualitas semacam itu sehingga suasana hati dan motivasi tampak realistik  secara unik”.
3.       Alasan Agama Samawi Bukan Merupakan Bagian dari Kebudayaan
Agama samawi ialah ajaran Allah yang disampaikan kepada para Rasul-nya, yaitu agama Islam. Agama Samawi atau Sama’i, ialah agama Wahyu, dan wahyu yang Allah turunkan itu tidak lansung diturunkan kepada masyarakat, akan tetapi melalui Rasul atau utusan Allah.
Adapun ciri-cirinya yaitu:
1)        Secara pasti dapat ditentukan lahirnya, dan bukan tumbuh dari masyarakat, melinkan diturunkan kepada masyarakat.
2)        Disampaikan oleh manusia yang dipilih Allah sebagai utusan-Nya. Utusan itu bukan menciptakan agama, melainkan menyampaikanya.
3)        Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia.
4)        Ajaranya serba tetap, walaupun  tafsiranya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan kepekaan manusia.
5)        Konsep ketuhananya adalah: Monotheisme mutlak (Tauhid).
6)        Kebeneranya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia, masa, dan keadaan.
Dari ciri-ciri tersebut dapat dikatakan bahwa agama samawi bukanlah hasil pemikiran ataupun diambil dari kebudayaan manusia, melainkan murni ajaran dari Tuhan yang bersifat mutlak. Oleh karenanya lingkup kebudayaan ataupun yang lain tidak boleh mengatasnamakan bahwa ajaran samawi itu berasal dari mereka.
4.      Hubungan Antara Agama dengan Kebudayaan
Seperti halnya kebudayaan, agama sangat menekankan makna dan signifikasi sebuah tindakan. Karena itu sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara kebudayaan dan agama bahkan sulit dipahami kalau perkembangan sebuah kebudayaan dilepaskan dari pengaruh agama. Sesunguhnya tidak ada satupun kebudayaan yang seluruhnya didasarkan pada agama. Untuk sebagian kebudayaan juga terus ditantang oleh ilmu pengetahuan, moralita, serta pemikiran kritis.
Meskipun tidak dapat disamakan, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi. Agama mempengaruhi sistem kepercayaan serta praktik-praktik kehidupan. Sebaliknya kebudayaan pun dapat mempengaruhi agama, khususnya dalam hal bagaimana agama diinterprestasikan atau bagaimana ritual-ritualnya harus dipraktikkan. Tidak ada agama yang bebas budaya dan apa yang disebut Sang –Illahi tidak akan mendapatkan makna manusiawi yang tegas tanpa mediasi budaya, dalam masyarakat Indonesia saling mempengarui antara agama dan kebudayaan sangat terasa. Praktik inkulturasi dalam upacara keagamaan hampir umum dalam semua agama.
Agama yang digerakkan budaya timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif. Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya.
Hubungan kebudayaan dan agama tidak saling merusak, kuduanya justru saling mendukung dan mempengruhi. Ada paradigma yang mengatakan bahwa ” Manusia yang beragma pasti berbudaya tetapi manusia yang berbudaya belum tentu beragama”.
Jadi agama dan kebudayaan sebenarnya tidak pernah bertentangan karena kebudayaan bukanlah sesuatu yang mati, tapi berkembang terus mengikuti perkembangan jaman. Demikian pula agama, selalu bisa berkembang di berbagai kebudayaan dan peradaban dunia.
Agama dan budaya Indonesia
Jika kita teliti budaya Indonesia, maka tidak dapat tidak budaya itu  terdiri dari 5 lapisan. Lapisan itu diwakili oleh budaya agama pribumi, Hindu, Buddha, Islam dan Kristen (Andito, ed,1998:77-79)
Lapisan pertama adalah agama pribumi yang memiliki ritus-ritus yang berkaitan dengan penyembahan roh nenek moyang yang telah tiada atau  lebih setingkat yaitu Dewa-dewa suku seperti sombaon di Tanah Batak, agama Merapu di Sumba, Kaharingan di Kalimantan. Berhubungan dengan ritus agama suku adalah berkaitan dengan para leluhur menyebabkan terdapat solidaritas keluarga yang sangat tinggi. Oleh karena itu maka ritus mereka berkaitan dengan tari-tarian dan seni ukiran, Maka dari agama pribumi  bangsa Indonesia mewarisi kesenian dan estetika yang tinggi dan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat luhur.
Lapisan kedua dalah Hinduisme, yang telah meninggalkan peradapan yang menekankan pembebasan rohani agar atman bersatu dengan Brahman maka dengan itu ada solidaritas mencari pembebasan bersama dari penindasan sosial untuk menuju kesejahteraan yang utuh. Solidaritas itu diungkapkan dalam kalimat Tat Twam Asi, aku adalah engkau.
Lapisan ketiga adalah agama Buddha, yang telah mewariskan nilai-nilai yang menjauhi ketamakan dan keserakahan. Bersama dengan itu timbul nilai pengendalian diri dan mawas diridengan menjalani 8 tata jalan keutamaan.
Lapisan keempat adalah agama Islam yang telah menyumbangkan kepekaan terhadap tata tertib kehidupan melalui syari’ah, ketaatan melakukan shalat dalam lima waktu,kepekaan terhadap mana yang baik dan mana yang jahat dan melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar) berdampak pada pertumbuhan akhlak yang mulia. Inilah hal-hal yang disumbangkan Islam dalam pembentukan budaya bangsa.
Lapisan kelima adalah agama Kristen, baik Katholik maupun Protestan. Agama ini menekankan nilai kasih dalam hubungan antar manusia. Tuntutan kasih yang dikemukakan melebihi arti kasih dalam kebudayaan sebab kasih ini tidak menuntutbalasan yaitukasih tanpa syarat. Kasih bukan suatu cetusan emosional tapi sebagai tindakan konkrit yaitu memperlakukan sesama seperti diri sendiri. Atas dasar kasih maka gereja-gereja telah mempelopori pendirian Panti Asuhan, rumah sakit, sekolah-sekolah dan pelayanan terhadap orang miskin.
Dipandang dari segi budaya, semua kelompok agama di Indonesia telah mengembangkan budaya agama untuk mensejahterakannya tanpa memandang perbedaan agama, suku dan ras.
Disamping pengembangan budaya immaterial tersebut agama-agama juga telah berhasil mengembangkan budaya material seperti candi-candi dan bihara-bihara di Jawa tengah, sebagai peninggalan budaya Hindu dan Buddha. Budaya Kristen telah mempelopori pendidikan, seni bernyanyi, sedang budaya Islam antara lain telah mewariskan Masjid Agung Demak (1428) di Gelagah Wangi Jawa Tengah. Masjid ini beratap tiga susun yang khas Indonesia, berbeda dengan masjid Arab umumnya yang beratap landai. Atap tiga susun itu menyimbolkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini tanpa kubah, benar-benar has Indonesia yang mengutamakan keselarasan dengan alam.Masjid Al-Aqsa Menara Kudus di Banten bermenaar dalam bentuk perpaduan antara Islam  dan Hindu. Masjid Rao-rao di Batu Sangkar merupakan perpaduan berbagai corak kesenian dengan hiasan-hiasan mendekati gaya India sedang atapnya dibuat dengan motif rumah Minangkabau (Philipus Tule 1994:159).
Kenyataan adanya legacy tersebut membuktikan bahwa agama-agama di Indonesia telah membuat manusia makin berbudaya sedang budaya adalah usaha manusia untuk menjadi manusia.
        
 KESIMPULAN
-Kata agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu berasal dari kata a(tidak)  
  dan gama (kacau), yang bila digabungkan   menjadi sesuatu yang tidak kacau.
- Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “budaya“ adalah pikiran, akal budi, adat
   istiadat.
 - Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebudayaan  adalah hasil kegiatan dan penciptaan  
   batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. 

- Masyarakat, agama dan kebudayaan sangat erat berkaitan satu sama lain. Saat budaya atau agama  
  diartikan sesuatu yang terlahir di dunia yang manusia mau tidak mau harus menerima warisan
  tersebut.  Berbeda ketika sebuah kebudayaan dan agama dinilai sebagai sebuah proses tentunya akan
  bergerak kedepan menjadi sebuah pegangan, merubah suatu keadaan yang sebelumnya menjadi lebih  
  baik.

REFERENSI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar